Senin, 14 Januari 2013

Sejarah tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia



  1. Mohamad Syafei
Mohamad Syafei mendirikan sekolah INS (Indonesisch Nederlandse
School
) di Sumatra
Barat pada tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kayutanam,
sebab sekolah ini didirikan di Kayutanam. Maksud utama Syafei adalah mendidik
anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa yang
merdeka. Dengan berdirinya sekolah ini berarti Ia menentang sekolah-sekolah
Hindia Belanda yang hanya menyiapkan anak-anak untuk menjadi pegawai-pegawai
mereka saja.
Tujuan pendidikan INS adalah sebagai berikut :
  1. Mendidik anak-anak kearah hidup
    yang merdeka, melalui pendidikan hidup mandiri.
  2. Menanamkan kepercayaan kepada diri
    sendiri, membina kemauan keras, dan membiasakan berani bertanggung jawab.
  3. Membiayai
    diri sendiri dengan semboyan cari sendiri dan kerjakan sendiri.
  4. Mengembangkan
    anak secara harmonis, yang mencakup aspek perasaan, kecerdasan, dan
    keterampilan.
  5. Mengembangkan
    sikap sosial, agar dapat bermasyarakat dengan baik.
  6. Menyesuaikan
    pendidikan dengan masing-masing bakat anak.
  7. Membiasakan
    bekerja menurut kebutuhan lingkungan.
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, maka model
sekolahnya diatur sebagai berikut
  1. Sekolah
    itu berbentuk asrama, anak-anak hidup bersama-sama melalui bekerja nyata
    atau belajar melalui bekerja.
  2. Belajarnya
    diatur menjadi sebagian belajar teori dan sebagian lagi belajar praktek.
  3. Ada bermacam-macam
    perlengkapan belajar, seperti tanah dan alat-alat tukang kayu, alat
    bercocok tanam, alat-alat menganyam, alat-alat mengolah karet, koperasi,
    lapangan olahraga, dan tempat pentas seni.
  4. Disamping
    bekerja anak-anak juga berupaya mencari uang sendiri dengan cara antara
    lain : menjual barang-barang hasil karya sendiri, berkoperasi, mengadakan
    pentas seni berkeliling.
Organisasi pendidikannya mencakup ruang bawah dan
ruang atas, keduanya terdiri dari sekolah dasar, sekolah menengah, dan
kemasyarakatan.
a.       Ruang bawah sama dengan SD yang lama
belajarnya 7 tahun. Disini teori dipelajari 75% dan praktek 25%, dipilih sesuai
dengan kemampuan anak-anak tingkat SD.
b.      Ruang atas, mempelajari teori 50% dan
praktek 50%. Ruang atas berlangsung selama 6 tahun, yang terdiri dari : ruang
antara 1 tahun, ruang remaja 4 tahun, ruang masyarakat 1 tahun.
  1. Ki Hajar Dewantara
Suwardi Suryaningrat, demikian
nama kecil Ki Hajar Dewantara adalah putera kedua dari KPH Suryaningrat (cucu
Paku Alam III), lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Setelah genap 40
tahun ia diganti nama Ki Hajar Dewantara. Ia memasuki sekolah rendah Belanda
dan kemudian pindah ke OSVIA di Magelang. Berbagai macam pekerjaan telah
dicobanya. Dari menjadi pegawai pabrik gula di Banyumas, pindah menjadi pegawai
di apotek Rathkamp (Raja Farma), kemudian menjadi wartawan dan memasuki
gelanggang politik.
Karena pendirian dan sikapnya yang
tegas menentang penjajah Belanda, Ia dan teman-temannya dibuang diluar Jawa,
termasuk juga Cipta Mangunkusuma, dibuang di Bandaria, Dr.Ernest Francois
Eugene Deuwes Dekker diasingkan ke Timor Kupang, sedang Ia sendiri harus
menjalani pengasingan ke Bangka. Kemudian ketiganya dibuang ke Belanda,
disitulah Suwardi Suryaningrat memperdalam soal-soal pendidikan.
Pada tahun 1919 ia
dikembalikan ke Indonesia (oleh Pemerintah Belanda), kembali ketanah air tetap
meneruskan perjuangannya. Beliau menjabat sebagai Sekretaris Pedoman Besar NIP
(National Indische Partij) dan juga sebagai redaktur surat kabar De Beweging,
Persatuan dan Penggugah. Dua tahun kemudian ia menjabat guru sekolah Adidharma,
suatu perguruan yang didirikan oleh kakaknya sendiri yang bernama Raden Mas
Suryapranata. Pada tanggal 3 Juli 1922 Suwardi Suryaningrat mendirikan yayasan
Perguruan Nasional taman siswa, di Yogyakarta. Pada permulaannya, didirikannya
Taman Indria (TK) dan kursus guru. Kemudian dalam perkembangannya dikuti dengan
didirikannya Taman Muda (Sekolah Dasar) dan pada tanggal 7 Juli 1924
didirikanlah bagian 
Mulo-Kweekschool
(Taman Dewasa merangkap taman guru). Lama pelajaran tingkat ini adalah 4 tahun
setelah Taman Muda. Demikianlah lembaga- lembaga pendidikan yang didirikannya
semakin meluas dan berkembang, sehingga Taman Siswa mempunyai taman Indria,
Taman Muda, Taman Dewasa, Taman Madya, Taman Guru, Pra Sarjana dan Sarjana
Wiyata.
Pada tanggal 3 februari 1928, genap berusia 40
tahun, ia berganti nama yang kemudian menjadi sangat tenar.
  1. Kyai H. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan adalah orang yang
mendirikan organisasi Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian
berkembang menjadi pendidikan agama islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian
besar memusatkan diri pada pengembangan agama Islam. Asas pendidikannya adalah
islam dengan tujuan mewujudkan orang-orang yang berakhlak mulia, cakap, percaya
kepada diri sendiri, dan berguna bagi masyarakat serta negara.
Ada 5 butir yang dijadikan dasar pendidikan yaitu:
  1. Perubahan
    cara berpikir, ialah kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran untuk mengubah
    cara berpikir dan bertindak dari kebiasaan lama yang kurang tepat, untuk
    mencapai tujuan pendidikan.
  2. Kemasyarakatan,
    artinya janganlah hanya mengembangkan aspek individu saja, melainkan juga
    aspek kemasyarakatan, agar pengembangan individu dan kemasyarakatan
    berimbang.
  3. Aktivitas,
    anak harus menggunakan aktiviotasnya sendiri untuk memperoleh pengetahuan.
    Dan harus pula
    melaksanakan serta mengamalkan semua hal yang telah diketahuinya.
  4. Kreativitas
    ialah untuk memperoleh kecakapan, keterampilan, dan kiat guna menghadapi
    situasi baru secara tepat dan cepat.
  5. Optimisme,
    anak-anak diberi keyakinan bahwa melalui pendidikan cita-cita mereka akan
    tercapai, asal dengan semangat dan berdedikasi mengerjakannya sesuai
    dengan yang digariskan oleh Tuhan.
Dan fungsi lembaga pendidikan ciptaan Ahmad Dahlan
adalah sebagai berikut :
a.       Sebagai alat dakwah, baik kedalam maupun
keluar anggota organisasi Muhammadyah.
b.      Tempat pembibitan dan pembinaan kader,
yang dilaksanakan secara sistematis dan selektif sesuai dengan kebutuhan.
c.       Merupakan wahana untuk melaksanakan amal
para anggota organisasi.
d.      Mensyukuri nikmat Tuhan, artinya apa pun
kemampuan anak-anak, pendidik harus memberi kesempatan berkembang, menjaga, dan
merawatnya dengan sebaik-baiknya.
  1. Willem Iskander
Willem Iskander adalah salah
satu diantara orang Indonesia pertama yang telah berhasil membuktikan
kemampuannya memimpin lembaga pendidikan yang penting. Liku-liku perjuangan
Willem Iskander mengangkat martabat bangsa melalui jalur pendidikan memang
penuh tantangan dan tanggung jawab. Ketekunannya bekerja keras, kreativitas
yang produktif dan semngat pembaharuan yang menyala-nyala telah berhasil
merubah cara berpikir orang Tapanuli Selatan untuk meraih kemajuan. Ini semua dilakukan Willem Iskander satu
perempat abad yang lalu, ketika sarana pendidikan dalam keadaan serba sederhana
dan kekurangan.
Pada tahun 1869 telah
direncanakan suatu tugan bagi Willem Iskander untuk membawa 8 orang guru muda
msing-masing 2 orang dari Mandailing, Sunda, Jawa dan Minahasa. Pada tahun 1873
sudah diketahui calon-calon penerima beasiswa itu. Tetapi ternyata bukan 8
orang. Yang berhasil memperoleh beasiswa itu hanya 3 orang, yakni Banas Lubis
dari Mandailing (Kweekschool), Ardi Sasmita dari Sunda (Kweekschool) da Raden
Mas Surono dari Jawa (Kweekschool Tanobato Surakarta). Jadi tidak benar apabila
ada keterangan yang selama ini kita dengar bahwa Willem Iskander dibuang
kenegeri Belanda. Yang benar adalah bahwa perjalanan ke negeri Belanda itu adalah
rencana matang yang telah lama dipersiapkan oleh Willem Iskander. Ia bukan saja
menghubungi pejabat-pejabat resmi di Indonesia, tetapi juga beberapa orang yang
berpengaruh di negeri Belanda untuk melicinkan jalan pelaksanaan rencana itu.
Antara lain dengan minta kesediaan mereka memberikan rekomendasi kepada
pejabat-pejabat yang menentukan di Hindia Belanda ketika itu. Orang yang
dihubungi antara lain D.Hekkar Jr, bekas gurunya di Oefenschool di Amsterdam.
Sejarah latar belakang jejak
Willem Iskander terdapat dalam buku 
Si
Bulus-Bulus Si Rumpuk-Rumpuk.
 Buku ini memang suatu gudang inspirasi bagi
generasi demi generasi sesudah periode Willem Iskander. Buktinya dapat kita
lihat dalam sejarah pergerakkan kebangsaan di Tapanuli Selatan pada awal abad
ini. Para tokoh pejuang kebangsaan itu menggali ide kemerdekaan nasional dari
buku ini dan mereka kobarkan semangat kebangsan itu dalam rapat-rapat raksasa yang
dibayangi oleh orang-orang Politieke Inlichtingen Dients (PID), polisi rahasia kolonial.
Sedemikian eratnya gerakan itu dengan karya-karya Willem Iskander, sehingga
dalam arsip-arsip PID gerakan itu dijuluki Groep Si Roemboek-Roembok. Ketiga
tiga tokoh yang disebut pertama dibuang ke Digul sebagai tahanan politik,
ancaman peredaran buku karya utama Willem Iskander ini telah terbayang.
Kemudian menjadi kenyataan beberapa waktu setelah para perintis kemerdekaan itu
ditangkap.
5. Slamet Iman Santoso
Penerima penghargaan sebagi
tokoh pendidikan nasional dari IKIP Jakarta (UNJ) pada tahun 1978, ini selain
sebagai perintis dan pendiri fakultas psikologi UI juga ikut mendirikan
Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Airlangga dan
Universitas Hasanuddin. Menurut Conny Semiawan, Slamet adalah tokoh pendidikan
yang berani. Dia adalah orang pertama yang mengusulkan perlunya satu standar
bagi semua jenjang pendidikan di Indonesia. Usul yang Ia lontarkan sepanjang
tahun 1979-1981 ini membuat heboh dunia pendidikan. Dia juga orang yang
mengkritik keras minimnya gaji guru yang dia sebut dapat merusak dunia
pendidikan. Dia membandingkan gaji guru jaman Belanda yang dua kali lipat
daripada gaji dokter. Sehingga guru tak perlu mencari tambahan dan dunia
pendidikan tidak dicampurbaurkan dengan bisnis.
Sejarah tokoh-tokoh pendidikan di luar
negeri
  1. Francis Bacon
Francis Bacon ialah tokoh
pendidikan pada zaman Realisme
ini (abad ke 17) yang pertama
mengembangkan metode induktif. Ia juga seorang negarawan Inggris, juga seorang
filosof dan ahli ilmu alam. Mengenai pandangan hidup
tentang alam, bahwa alam harus dikuasai oleh manusia, ia menyatakan “Man is but
the servant and interpreter of nature, it can be commanded only by being
obeyed, thus do human knowledge and human power really met in one”. Pengetahuan
tentang alam harus dapat digunakan secara praktis dalam hidupnya. Oleh karena
itu harus diadakan penyelidikan terhadap alam secara baik. Metode yang terbaik
baginya adalah metode induktif dengan mengadakan percobaan. Penyelidikan ilmiah
tentang alam adalah dasar bagi kemajuan manusia. Ia mengemukakan bahwa hendaknya
mata pelajaran itu disususun atas dasar observasi yang teliti dan percobaan
kearah penyelidikan dunia kenyataan. Jadi tidak berdasar pada tradisi tertentu.
Ada sejumlah prinsip pendidikan yang berkembang pda waktu itu, yang
dirumuskan oleh Bacon serta pengikut-pengikutnya, antara lain :
a.
Pendidikan lebih dihargai
daripada pengajaran sebab mengembangkan semua kemampuan manusia.
b.
Pendidikan harus menekankan
aktivitas sendiri.
c.       Penanaman pengertian lebih penting
daripada hafalan.
d.      Pelajaran disesuaikan dengan perkembangan
anak.
e.       Pelajaran harus diberikan satu per satu.
f.       Pengetahuan diperoleh dengan metode
induktif
g.      Semua anak harus mendapatkan kesempatan
yang sama untuk belajar.
  1. John Locke
John Locke adalah seorang
tokoh filsafat dan pendidik pada masa Rasionalisme yang terkenal dengan
teorinya 
Tabula rasa. Ia dilahirkan
di Wrington dekat Bristol dari seorang Puretein, ahli hukum. Ia mendapat
pelajaran secara perseorangan, kemudian belajar di Westminster school,
meneruskan sekolah Kristen dan Gereja, lalu masuk ke Oxford University dan
kemudian menjadi sekretaris kedutaan di Brandenburg.
Keyakinannya adalah akal
merupakan sumber pengetahuan, atau pengetahuan adalah sebagai hasil pengolahan
akal. Paham ini muncul karena masyarakat dengan akalnya dapat menumbangkan
kekuasaan raja Prancis yang absolut.
Menurutnya, mendidik adalah menulisi kertas putih
itu. Manusia tidak mewarisi pengetahuan, tetapi membentuk pengetahuannya
sendiri. Aufklarung adalah keadaan jiwa manusia setelah diterangi oleh intelek,
dari mengalami kegelapan dalam tindasan raja/pemerintah dan dogma-dogma agama
menjadi bebas mencari cara hidup sendiri Teori yang membebaskan jiwa manusia
ini, bisa mengarah ke hal-hal yang negatif seperti intelektualisme,
individualisme, dan materialistis.
Proses belajar menurut John Locke ada 3 langkah,
yaitu :
a.       Mengamati hal-hal yang ada diluar diri
manusia
b.      Mengingat apa yang telah diamati dan
dihafalkan
c.       Berpikir, yaitu mengolah bahan-bahan yang
telah diperoleh tadi, ditimbang-timbang untuk diri sendiri.
Dengan materi pelajaran terutama bahasa Latin dan
ilmu pasti untuk melatih pikiran.
  1. Johann Fredrich Herbart
Herbart menginginkan
pembentukan manusia susila yang bermoral tinggi. Tujuan pendidikannya ialah
membentuk watak susila, melalui pengembangan minat yang seluas-luasnya. Minat
anak terhadap segala sesuatu dikembangkan lewat pengajaran. Dia berkeyakinan
bila anak-anak berminat terhadap sesuatu, makaia akan mempelajarinya sehingga
menjadi pengetahuan. Pengetahuan itu kemudian dapat menimbulkan rasa atau
simpati yang akhirnya membuat anak itu mau melakukannya. Herbart menyatakan
kita mau melakukan sesuatu tentang apa yang kita ketahui, tetapi kita tidak mau
melakukan hal itu manakala kita tidak tahu tentang hal itu. Inilah cara
membentuk watak anak agar susila.
Dasar teori pendidikan Herbart
adalah Psikologi Asosiasi. Pengajaran yang baik akan memberikan tanggapan
sejelas-jelasnya kepada anak-anak. Tanggapan yang jelas akan bisa membuat
hubungan antar tanggapan yang erat. Asosiasi yang baru akan membentuk
pengetahuan yang baru pula. Karena itu Psikologi Asosiasi Herbart sering pula
disebut Psikologi Tanggapan.
Ada 5 langkah dalam proses belajar mengajar :
a.       Persiapan, anak-anak dipersiapkan untuk
menerima pelajaran. Minat mereka digerakkan untuk menerima bahan baru dengan cara
menghubungkannya dengan bahan lama yang telah dipelajari.
b.      Presentasi, dimulai secara konkret agar
anak-anak mendapat tanggapan-tanggapan yang jelas, terang, dan kuat.
c.       Asosiasi, dilakukan dengan cara
mengintegrasikan pengetahuan baru dengan yang lama.
d.        Generalisasi,
hubungan pengetahuan baru dengan yang lama benar-benar agar membentuk sesuatu
yang baru puladalam benak anak-anak. Dengan demikian setiap kali diberi materi
yang baru akan selalu membentuk pengetahuan-pengetahuan baru pada diri
anak-anak.
e.       Aplikasi, pembentukan
pengetahuan-pengetahuan baru itu perlu diuji atau ditest, untuk mengetahui
apakah anak-anak sudah mampu mengaplikasikan pengetahuan itu atau belum.
4. Friedrich Wilhelm August Frobel
Pada tahun 1813 Frobel terjun
dalam dunia kemiliteran, turut berperang sebagai sukarelawan di Lotzow, melawan
Napoleon. Sesudah perang Frobel menjadi inspektur Museum Mineralogi. Jabatan
itu diletakkannya ketika ia menerima tugas baru, yaitu berkewajiban mengasuh
kelima orang kemenakannya.
Pada tahun 1817 ia mendirikan
rumah pendidikan di Kelihau dibantu Langenthal dan Middendorf. Dua puluh tahun
kemudian ia mendirikan 
Kinder Garten (nama
ini diberikan baru pada tahun 1840), yang bertujuan mendidik anak-anak sebelum
sekolah, melatih anak-anak kecil untuk hidup bersama, meringankan tugas kaum
ibu, dan memberikan pembentukan teoritik dan praktis kepadacalon ibu (gadis ±16
tahun). Usaha ini terpaksa dihentikan karena ia dituduh memberontak negara.
Pada hal yang memberontak adalah Karel Frobel, pemimpin sosialis, kemenakan
F.W.A.Frobel. jadi pemerintahan Jerman bertindak kurang cermat. Bagaimanapun
juga 
Kinder Garten harus ditutup
sebab dilarang oleh pemerintah pada tahun 1852, tokoh pendidikan terkenal ini
meninggal dunia karena sedih.
Frobel bermaksud mengembangkan
semua kapasitas dan kekuatan yang laten pada anak-anak. Frobel yakin, anak-anak
dilahirkan sudah berbekal potensi-potensi. Tujuan pendidikannya adalah
mengembangkan semua potensi itu agar menjadi aktual. Pengembangan manusia
adalah sama dengan pengembangan alam, mulai dari kuncup menjadi mekar.
Tujuan pendidikan adalah
mengontrol pertumbuhan anak agar menuju kearah yang benar, kearah aslinya
sebagai anak manusia. Pendidikan Frobel adalah perkembangan yang diawasi. Titik
berat pendidikannya adalah kreativitas. Artinya agar pendidikan anak berhasil
dengan baik, dibutuhkan kreativitas anak itu sendiri mengembangkan dirinya.
Tujuan akhir pendidikan Frobel
adalah mencapai integritas diri dengan alam atau kosmos ini, sesuai dengan
kehendak Tuhan penciptanya. Manusia perlu dikembangkan agar mencapai kedudukan
yang cocok di jagat raya ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar